Selasa, 11 April 2023

DISUSUN OLEH:

 - Dava Adhitya

 - Gana Kurnia

 - Ghaitsa Al farras 

 - Heksa Ibnu 

 - Jasmine Tazkia

 - Reva Putri






HASIL BUDAYA PENINGGALAN

 1. Balla Lompoa

Balla Lompoa atau yang berarti 'rumah besar' merupakan istana yang menjadi tempat kediaman Raja Gowa. Istana ini dibangun pada tahun 1936 setelah diangkatnya Raja Gowa ke-XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Selain sebagai kediaman Raja Gowa, Balla Lompoa ini juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Balla Lompoa terletak di Desa Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Istana Balla Lompoa memiliki 54 pilar, enam jendela di sisi kiri dan empat jendela di depan. Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo tersebut kini difungsikan sebagai Museum Balla Lompoa yang menyimpan koleksi benda-benda kerajaan.

https://images.app.goo.gl/CZ5XHyR2RkVQKhCy5


2. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa Tallo yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Bangunan yang dulunya menjadi benteng kerajaan ini dibangun oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi Kallonna, pada tahun 1525.

Hingga masa pemerintahan Sultan Gowa ke-9 berakhir, pembangunan benteng ini tidak selesai. Pembangunan benteng ini pun dilanjutkan oleh Raja Gowa ke-12, Karaeng Tunijallo dan Sultan Alauddin.

Setelah selesai dibangun, Benteng Somba Opu kemudian menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah. Benteng ini ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa pada pertengahan abad 16.

Di masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, benteng ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Benteng Somba Opu kini difungsikan sebagai salah satu objek wisata bersejarah. Di dalam kawasan Benteng Somba Opu, terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan.

Saat berkunjung ke tempat ini, pengunjung dapat melihat salah satu benda bersejarah yaitu sebuah meriam dengan panjang 9 meter dengan berat mencapai 9.500 kilogram. Di kawasan ini juga berdiri sebuah bangunan yang menjadi museum berisi benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Gowa.


https://images.app.goo.gl/f1sAxiE1TubRW8xo7



3. Benteng Rotterdam

Peninggalan sejarah dari Kerajaan Gowa-Tallo berikutnya yaitu Benteng Rotterdam. Dalam sejarah Kerajaan Makassar, benteng ini awalnya diberi nama Benteng Jumpandang.

Benteng Rotterdam dibangun oleh Raja Gowa X yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung pada tahun 1545.

Pada awal berdirinya, benteng ini berbentuk segi empat, bentuknya sama seperti seperti benteng gaya Portugis lainnya. Lokasi Benteng Rotterdam berada di pesisir barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng Rotterdam merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Kini, bangunan ini difungsikan sebagai destinasi wisata sejarah serta museum yang menyimpan sejumlah benda-benda sejarah.

Sejak tahun 2010, Benteng Rotterdam ditetapkan juga telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI pada 22 Juni 2010.

https://images.app.goo.gl/DXRNU3QvExVwDTNn8


4. Masjid Tua Katangka

Masjid Tua Katangka juga merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Masjid ini dibangun pada tahun 1603 di masa pemerintahan Raja Gowa XIV (Sultan Alauddin I).

Nama masjid ini diambil dari nama Syufi Kharismatik yang dipuja masyarakat Sulawesi Selatan. Syufi tersebut bernama Syekh Yusuf Al Makkasari yang merupakan kerabat Raja Gowa.

Bangunan sejarah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo ini terdaftar dalam Cagar Budaya Nasional.

Masjid Tua Katangka ini terletak di sebelah utara kompleks makam Sultan Hasanuddin, tepatnya di Jalan Syech Yusuf, Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

https://images.app.goo.gl/hKYTk2g91jiVaZ199


5. Kompleks Kuburan Raja Tallo dan Gowa

Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa berikutnya yaitu Kuburan Raja Tallo dan Gowa. Kompleks Makam Raja Tallo ini merupakan salah satu Situs Cagar Budaya dan telah ada sejak abad ke 17 hingga abad 19.

Makam ini terletak di Jalan Sultan Abdullah Raya , Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Lokasinya berada di tepi barat muara Sungai Tallo atau di sudut timur laut kawasan benteng Tallo.

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fi0.wp.com%2Fwww.eviindrawanto.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2016%2F06%2Fkompleks-makam-raja-gowa-9.jpg%3Fssl%3D1&tbnid=c_MBH9YPLNuJOM&vet=1&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.eviindrawanto.com%2F2016%2F06%2Fbertamu-ke-kompleks-makam-raja-gowa%2F&docid=kfqsPQelMKYLxM&w=800&h=534&hl=in-ID&source=sh%2Fx%2Fim



https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6503694/5-peninggalan-sejarah-kerajaan-gowa-tallo-yang-masih-berdiri-kokoh





Senin, 10 April 2023

EKONOMI DAN KEHIDUPAN SOSIAL

 1. Kondisi Ekonomi Kerajaan Gowa Tallo

kerajaan gowa-tallo atau yang biasa disebut dengan kerajaan Makassar merupakan kerajaan maritim dan kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan di wilayah Indonesia bagian timur. 

Kerajaan Gowa Tallo menjadi pusat perdagangan bukan tanpa alasan melainkan ditunjang oleh beberapa faktor diantaranya yaitu:

1. Memiliki pelabuhan yang baik

2. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang menyebabkan para pedagang pindah ke wilayah Indonesia Timur

3. Letaknya yang strategis.

Gua sebagai pusat perdagangan kemudian wilayah Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional yang banyak disinggahi oleh para pedagang asing seperti pedagang yang berasal dari Portugis, Inggris, Denmark dan masih banyak lagi para pedagang yang datang ke Makassar.

Perdagangan dan juga pelayaran yang berada di Makassar diatur berdasarkan hukum niaga atau yang disebut dengan ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, peraturan yang telah dibuat tersebut membuat perdagangan yang yang ada di wilayah Makassar menjadi teratur dan juga mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Selain menjadi tempat perdagangan Makassar juga mengembangkan an-naziat and pertanian karena Makassar memiliki dan menguasai daerah-daerah yang subur yaitu di wilayah bagian timur Sulawesi Selatan.


2. Kondisi Sosial Budaya Kerajaan Gowa Tallo

Kerajaan Makassar atau Kerajaan Gowa Tallo sebagai negara maritim, oleh karena itu sebagian besar masyarakat Makassar memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan juga pedagang. 

mereka sangat giat untuk melakukan usaha serta meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang masyarakat di antara mereka yang memilih untuk merantau guna menambah penghasilan dan kemakmuran hidupnya.

Walaupun masyarakat Makassar memiliki kebebasan untuk berusaha guna mencapai kesejahteraan hidupnya, akan tetapi kehidupan masyarakat Makassar sangat terikat oleh norma dan juga adat istiadat yang dianggapnya sakral. 


https://images.app.goo.gl/tRGmmrs8ejDBhBQe6


norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan juga agama Islam yang biasa disebut PANGADAKKANG. Masyarakat Makassar juga sangat percaya terhadap norma-norma yang telah ditetapkan tersebut.

Selain norma yang harus ditaati oleh masyarakatnya, masyarakat Makassar juga mengenal berbagai jenis golongan sosial Al yang terdiri dari golongan atas yang berarti golongan bangsawan dan keluarganya disebut sebagai ’Anakarung/Karaeng”, 

Sedangkan untuk golongan kedua atau rakyat kebanyakan disebut sebagai ”to Maradeka” dan untuk golongan bawah yang merupakan para hamba-sahaya disebut sebagai golongan ”Ata”.

https://www.pinhome.id/blog/kerajaan-gowa-tallo/#Kondisi_Ekonomi_Sosial_Budaya_dan_Politik_Kerajaan_Gowa_Tallo

SISTEM PEMERINTAHAN

 Kerajaan Gowa Tallo adalah kerajaan gabungan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang dimiliki dua orang bersaudara. Dua kerajaan ini bersatu saat pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapara’risi Khallona.

Kerajaan ini bersatu atas dasar kesepakatan, sehingga rakyat kedua kerajaan pun tidak memihak siapapun. Meski begitu, mereka memiliki dua raja yang sama-sama berkuasa di wilayah masing-masing.

Pada akhir abad ke 16, Sultan Alauddin adalah raja pertama yang memeluk Islam di Kerajaan Gowa Tallo dan sebagai penanda bahwa Kerajaan Gowa Tallo menjadi kesultanan. Agama Islam di Gowa semakin pesat. Pada tahun kedua kesultanan, semua rakyat kerajaan akhirnya beragama Islam.

Masa kejayaan Kerajaan Gowa Tallo adalah masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Sultan Hassanuddin adalah Raja Gowa ke 16 sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya saat berada dibawah pimpinan beliau.



Sultan Hasanuddin memiliki julukan yang terkenal yakni Ayam Jantan dari Timur yang tidak mudah terpengaruh oleh orang asing. Ia menentang keras kehadiran VOC saat menguasai sebagian kerajaan kecil di Sulawesi.

Pada masa kejayaannya, Gowa Tallo menjadi pusat perdagangan terbesar di Indonesia bagian Timur. Ada banyak saudagar muslim dari berbagai wilayah di dunia untuk berdagang. Kerajaan ini bersifat maritim, selain karena letaknya yang sangat strategis dengan laut, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.

Kerajaan Gowa Tallo mulai runtuh saat VOC menguasai sebagain besar kerajaan kecil di Sulawesi. Sultan Hasanuddin berupaya melawannya dengan bantuan dari seluruh kerajaan Indonesia Timur.

Peperangan tersebut dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, tetapi penjajah semakin menambah pasukan dan membuat kubu Kerajaan Gowa terdesak. Akhirya pada tahun 1667, Kerajaan Makassar mengakui kekalahannya dan bersedia menandatangani Perjanjian Bongaya yang tentu saja merugikan Kerajaan Gowa.

Pertempuran pasca perjanjian pun tetap terjadi. Saat VOC kembali meminta pasukan tambahan dan akhirnya merobohkan benteng kekuasaan Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin turun tahta dan mengundurkan diri dari kerajaan. Kerajaan Makassar kemudian mengalami transisi kepemimpinan, kemudian saat dipimpin oleh Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, kesultanan resmi menjadi bagian dari Indonesia.

https://jogja.suara.com/read/2022/02/14/111841/sejarah-kerajaan-gowa-tallo-dan-kepemimpinan-sultan-hasanuddin-yang-melegenda






LETAK GEOGRAFIS

letak kerajaan Gowa dan tallo

Kerajaan Islam Gowa Tallo terletak di Pulau Sulawesi, tepatnya di Semenanjung barat daya Pulau Sulawesi Selatan. Lokasi pusat pemerintahan kerajaan Gowa Tallo berada di Sombaopu (Makassar). Rakyat dari kerajaan ini berasal dari suku Makassar yang menempati wilayah ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. 

Karena letaknya yang strategis secara geografis, maka wilayah Makassar menjadi jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Para pedagang Islam tersebut, yang akhirnya berperan dalam penyebaran Islam di Sulawesi.

https://kumparan.com/berita-terkini/sejarah-politik-dan-letak-kerajaan-islam-gowa-tallo-di-indonesia-1yxS0yCbVUu

  catatan: pada saat itu kerajaan gowa dan tallo berpisah tetapi kemudian bersatu 



    https://images.app.goo.gl/twQwtUeMBB1srUFy5


DISUSUN OLEH:

 - Dava Adhitya  - Gana Kurnia  - Ghaitsa Al farras   - Heksa Ibnu   - Jasmine Tazkia  - Reva Putri